puisi tentang cinta

Posted: 24 October 2010 in puisi indah
Tags:

Aku masih menanti sang matahari pagi
menggeliat dan membuka kelopak matanya Aku
masih menanti kabut tipis berlari bersama butiran
embun di ujung ilalang Aku masih menanti pagi
ini kau hujani aku dengan cahayamu Karena pagi
ini ingin kurajut sebuah pelangi untukmu Dengan
warna-warna teduh yang terpancar dari
kelembutanmu Merah ..kuning …hijau …
biru….ungu …putih …. Yang ku rajut seperti
selendang bidadari Untuk kau kenakan saat
keteguhanku merengkuhmu.. Lihatlah pada
birunya langit Pelangi itu terbentang indah hingga
ke batas cakrawala Dan bias rona merahnya
menyapu wajah tulusmu Hingga dalam binar
matamu tergambar beningnya sebuah hati
Mungkin aku akan tetap disini menanti malam
menyuguhkan mimpi Dan melihat betapa
cantiknya dirimu dengan selendang bidadari itu ..
Walaupun aku takut sulaman mimpi itu selalu
pergi Walaupun aku tak mampu memupuskan
ragu ini Biarlah aku menunggumu …

pacar yang hilang kembali datang di ujud baru
engkaulah itu! menitis sinta pada mata drupadi
pada pipi lalu dayang sumbi pada cantikmu abadi
purbasari putri bungsu pada rimbun rambutmu
mengapa tak dengar sampai hingar kuseru tanpa
suara mengapa tak hirau sampai parau kusapa
tanpa kata lewatmu kelewat terburu sejenak tak
singgah di serambi hati untuk bersetuju dan bikin
janji

Sekalipun tak kumiliki engkau tetap milikku Selalu
saja beterbangan di kamar masing-masing,
sekelompok binatang purba bernama rindu,
mendengung-dengung taringnya runcing
menyengat bukan kulit tapi nadi, membengkak
hari ke hari (mengapa mengusik sarangnya?)
Ingin lupa ujud kamarmu yang hafal kamarku
saja: buku-buku map-map tumpukan pekerjaan
yang terbengkalai Tamasya tamasya kita
bunuhlah sebisanya racun paling dahsyat paling
nikmat bagi santapan kenangan

Ada wangimu tertinggal pada jari-jariku. Melekat
dalam mata waktu mencoba terpejam Lalu begitu
saja teringat saat-saat. Di pelataran rumah yang
sama. Kursi masih mungkin berganti letak.
Seperti hati? Tak tahu pasti. Kau juga Iseng
kubaca bintangmu dalam astrologi. Lalu juga
bintangku Majalah itu tentunya menipu kita tapi
engkau tersenyum. aku juga Harapan itu
meluncur tiba-tiba Sekelompok laba-laba
membentangkan jaring. Bulan terperangkap Ada
wangimu tertinggal pada jari-jariku. Ada
wangimu melekat di mana-mana. Jangan
hapuskan! Malaikat pun tak kan mampu
mencucinya.

kudengar lagi dekak batu gilingan
kepulan asap di tungku membungkus baju
kurungmu
pada subuh yang belum usai
kuraba tonggak tua rumah gadang yang berbulu
digaruk kucing
di situ puisiku pertama kali menyerpih
melekat sebagai debu yang mengambang di
langit-langit pagu
dapurmu
kudengar lagi sijingkat atah di ujung tampian
dedak yang berdenging di lantai tanah rumah kita
dan matamu menggambar sawah berjenjang
batang-batang padi menggembung seperti
pantau yang hamil
dari sana gabah bersembulan
mengulai dari tangkai
seperti anak-anakmu, ati
ada yang bernas ada yang hampa
kudengar lagi kecimpung tawas dalam kuali
sore itu aku pulang membawa sejinjing belut dan
anak gurami
yang kukail di batang air sialang
“ kita goreng sama peria atau asam pedas saja?”
tawarmu
kudengar lagi, hujan batu berderu di langit
kampung
dentangnya menyerang loteng bilikku
subuh seperti mau runtuh
ke dalam secerek air yang telah kau panaskan
lalu secangkir kahwa mengepul
“menjelang berangkat, minumlah
seperti bangau betina sebelum meninggalkan
kubangan, ” ucapmu
dari anak jenjang pertama
aku turun mengayun lambai
di laman
di tampuk embun
puisiku karam
tersangkut pada kelopak kembang tiga bulan
kudengar lagi kicau pipik tuai
musim bertanam yang riang
lalang-lalang mengungsi ke belukar mintalak
sebab sawah-sawah digenang
ke sana aku mandi-mandi
memakai baju tut wuri handayani
“cepat pulang,” sesalmu
aku pun berlari
percikan lumpur melewati kepala
ingat kambing yang belum dikeluarkan
ingat kulit manis yang belum diangkat dari
jemuran
ingat buku bergaris petak dan pr matematika
juga karangan singkat
yang harus dirangkai dengan huruf tegak
bersambung
tapi puisiku berdetak di roda bendi
seakan ada yang meningkah rabana
menuntun suara gadis penyanyi kasidah
batinku melulung meniti bansi para bujang
yang kesepian di dangau ladang
aku dengar lagi gesek mata pisau penetek
mayang nira
diasah bapak di batu gerinda
dan gerahamku selalu ngilu karenanya
sengilu ketika akhirnya bapak berperangai
musang
menerkam-hilang
dari kandang ke kandangrumah gadang
kudengar lagi gerutumu di balik pintu
tentang cengkeh yang terjual murah
harga racun padi yang menanjak
dan bapak yang tak pulang-pulang
selalu kudengar semua, ati
sembari mengintipmu menangis di balik kelambu
dipan
selalu
di pelukmu aku ingin rubuh
menghirup tubuhmu yang bau asap
meski dari dari ranah yang tak terdekap
di mana aku kini tersekap

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s