bahayanya pemanasan global (global warming)

Posted: 25 November 2010 in bahaya, cerita membuat motivasi, jalan jalan, kesehatan, online, pemanasan global, Uncategorized
Tags: , , , , , ,

global
warming?isu global warming
pasti sudah berkali-kali Anda
dengar. Entah dari media massa,
teman, atau lingkungan tentunya. Bagaimanakah posisi
Indonesia dalam isu global
warming ini?


Sebelum melangkah lebih jauh,
teman-teman pasti sudah tau apa
itu global warming kan?global warming dapat
didefinisikan sebagai peningkatan
temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Nah, apa
yang menyebabkan temperatur
bumi meningkat? Salah satu
penyebabnya ialah peningkatan
efek rumah kaca yang terjadi di
bumi. Pada dasarnya, efek rumah kaca
menyebabkan atmosfir bumi
menjadi hangat dan membuat
bumi dapat ditinggali oleh
makhluk hidup. Tanpa efek
rumah kaca, bumi akan menjadi planet yang amat dingin.
Sayangnya, efek rumah kaca
tersebut mengalami peningkatan
beberapa dekade belakangan ini.
Itulah inti permasalahan global
warming yang sedang digembar- gemborkan akhir-akhir ini.
Adapun contoh gas-gas yang
dapat menyebabkan efek rumah
kaca ialah CO2, CH4, NOx, SOx, SF6, H2O, dan PFC.

Statistik Dunia

Peneliti lingkungan dan sains
berpendapat bahwa manusia
ialah penyebab utama global
warming . Emisi gas rumah kaca
mengalami kenaikan 70 persen
antara 1970 hingga 2004. Konsentrasi gas karbondioksida
di atmosfer jauh lebih tinggi dari
kandungan alaminya dalam 650
ribu tahun terakhir. Rata-rata
temperatur global telah naik 1,3
derajat Fahrenheit (setara 0,72 derat Celcius) dalam 100 tahun
terakhir. Muka air laut
mengalami kenaikan rata-rata
0,175 centimeter setiap tahun
sejak 1961. Sekitar 20 hingga 30
persen spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan berisiko punah jika
temperatur naik 2,7 derajat
Fahrenheit (setara 1,5 derajat
Celcius). Jika kenaikan
temperatur mencapai 3 derajat
Celcius, 40 hingga 70 persen spesies mungkin musnah.

Meski negara-negara miskin yang
akan merasakan dampak sangat
buruk, perubahan iklim juga
melanda negara maju. Pada 2020,
75 juta hingga 250 juta penduduk
Afrika akan kekurangan sumber air, penduduk kota-kota besar di
Asia akan berisiko terlanda banjir. Di Eropa, kepunahan spesies akan ekstensif. Sementara di Amerika Utara,
gelombang panas makin lama dan
menyengat sehingga perebutan sumber air akan semakin tinggi. Kondisi cuaca ektrim akan
menjadi peristiwa rutin. Badai tropis akan lebih sering terjadi dan semakin besar intensitasnya.
Gelombang panas dan hujan lebat
akan melanda area yang lebih
luas. Resiko terjadinya kebakaran hutan dan penyebaran penyakit meningkat. Sementara
itu, kekeringan akan menurunkan produktivitas lahan dan kualitas
air. Kenaikan muka air laut akan
memicu banjir lebih luas,
mengasinkan air tawar, dan
menggerus kawasan pesisir.

Indonesia dan Global Warming

Indonesia menyumbang tujuh persen pencemaran dengan kadar karbon atau sebanyak 2,5 miliar
ton CO yang berdampak pada
terjadinya global warming . Hal
ini terjadi karena laju dan tingkat penggundulan hutan di Indonesia mencapai satu juta hektar per
tahun. Rachmat Witoelar mengatakan
bahwa global warming sedang
menjadi isu sentral di berbagai
belahan dunia. Salah satu
penyebab global warming ini
terkait kegiatan penebangan pohon di kawasan hutan yang
tidak diimbangi dengan
penanaman pohon pengganti atau
disebut deforestasi . Sektor kehutanan di seluruh dunia
menyumbang sebanyak 20
persen atau sekitar 7,5 miliar ton
kandungan CO, yang memicu
terjadinya global warming . Dari
angka tersebut, Indonesia menyumbang sepertiganya, atau
sebanyak tujuh persen dengan
total kontribusi sekitar 2,5 miliar
ton CO.

“Untuk menekan pemanasan global yang berasal dari
deforestasi, Indonesia perlu
menekan laju penggundulan hutan
yang sudah mencapai satu juta
hektar per tahun. Jika berhasil,
maka emisi akan berkurang 1,2 miliar ton CO. ”

Saat ini, negara-negara di dunia
yang tergabung dalam PBB
sedang gencar membahas
ancaman dan dampak global
warming . Sebagai tindak lanjut
dari pertemuan Kyoto tahun 1997 silam, pada 3-14 Desember 2007 akan digelar Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim
bertempat di Bali . Di sisi lain, masih ada sejumlah negara yang
menolak untuk mengakui
fenomena global warming, salah
satunya Amerika Serikat dan
Australia. Sampai sekarang,
kedua negara tersebut masih belum bersedia untuk
melaksanakan hasil pertemuan
Kyoto Protocol. AS belum mau
mengurangi pemakaian emisi gas
buang dari bahan bakar minyak
karena itu merugikan industri perminyakan yang setiap
tahunnya menghasilkan 450
miliar dollar AS per tahunnya.
Salah satu hasil dari Kyoto
Protocol itu ialah Flexible Mechanism, sebuah metode yang dapat diterapkan oleh negara-
negara di dunia untuk
mengurangi emisi industri.

Mari sadar sebelum terlambat.

Comments
  1. dedy says:

    mari menanam pohon..

  2. alui says:

    knp gw g nyadar y?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s